Senin, 01 Oktober 2012

Perdana Menteri Indonesia, Seorang Kristen Kalvinis!

Kaget? Silakan membacanya sekali lagi untuk meyakinkan diri Anda. Oh ya, tentu saja judul di atas tidak mengalami kesalahan pengetikan. Ide untuk menulis tentang Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap datang dari profile picture BB seorang teman yang diberi keterangan bahwa ia seorang Kristen Kalvinis. Terus terang saya terkejut sekaligus malu. Waduh, where have I been? Maka saya pun memutuskan untuk melakukan sebuah penelitian kecil mengenai Bung Amir, demikian ia disapa.
Siapa Bung Amir? Ia memiliki keterlibatan yang tinggi dalam berbagai organisasi pergerakan,  bahkan pernah menjadi pemimpin redaksi beberapa majalah Perjuangan Nasional. Perhatikan saja daftar berikut ini: ia menjadi salah satu pemimpin utama Angkatan Muda, ikut mendirikan Jong Batak dan Gerindo, aktif dalam Jong Sumatera, PPPI, dan GAPI. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia beberapa kali menjadi menteri dan pernah menjadi perdana menteri kedua (menggantikan Sjahrir). Apa arti menjadi perdana menteri? Itu artinya menjadi kepala pemerintahan tertinggi! Dengan kata lain, Indonesia pernah diperintah seorang Kristen Kalvinis.
Untuk membuat Anda lebih mengenal siapa Bung Amir, Jacques Leclerc menyebutkan tentang adanya empat pemimpin Revolusi Indonesia yang ibarat empat pilar penyangga revolusi. Mereka adalah Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Amir Sjarifoeddin yang tampil sebagai simbol negara Indonesia antara tahun 1945–1949. Kemunculan mereka pasti tidak lepas dari peran penting mereka di zaman Pergerakan Nasional.
Di zaman Pergerakan Nasional, terdapat dua kelompok yang melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda dan fasisme Jepang. Mereka disebut sebagai kelompok non-kooperatif yang disebut Belanda sebagai kaum kiri, dan kelompok kooperatif atau kaum loyalis. Bung Amir dan Sjahrir adalah pemimpin utama kaum kiri, golongan yang menolak bekerja sama dengan penjajah. Bisa ditebak, Soekarno dan Hatta adalah golongan tua yang melakukan strategi kooperatif dalam menghadapi penjajah khususnya Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Soekarno mengangkat Sjahrir dan kemudian Bung Amir menjadi Perdana Menteri. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan pada Inggris dan Amerika Serikat bahwa pemerintahan Indonesia bukanlah hasil rekayasa Jepang. Kedua tokoh angkatan muda ini ‘dipakai’ Soekarno-Hatta untuk mendapat dukungan internasional bagi kemerdekaan Indonesia. Oh ya, dukungan internasional yang dimaksud tentu saja adalah dukungan Blok Barat, dalam hal ini Inggris dan AS. Kebetulan Indonesia berada di dalam ruang lingkup kepentingan dan pengaruh negara-negara tersebut. Apa yang terjadi kemudian adalah formasi segi empat itu hancur. Hanya Soekarno dan Hatta yang tersisa. Angkatan muda yang diwakili oleh Amir dan Sjahrir digeser atau menurut pendapat Asvi Warman Adam mereka digilas pergolakan masa revolusi. Seperti Revolusi Perancis yang memakan anaknya sendiri, nasib yang sama menimpa Revolusi Indonesia 1945-1950. Sebutlah nama Oto Iskandar di Nata, Tan Malaka, dan Amir Sjarifoeddin. Sjahrir sendiri meninggal di pembuangan. Mengenaskan.
Lalu siapa sebenarnya Bung Amir? Ia adalah tokoh kontroversial yang tidak mudah untuk dipahami. Maka tidak adil jika kita hanya melihat satu sisi dari diri seorang Amir. Bung Amir bukan hanya seorang Kristen yang taat, yang suka memberitakan Injil dan berkhotbah. Bung Amir bukan hanya seorang politisi radikal yang memimpin partai sosialis (yang dewasa ini dipahami dalam konsep yang demikian keliru dan kacau). Bung Amir bukan hanya pejuang yang anti fasis dan kecewa terhadap AS yang berkhianat di dalam Perjanjian Renville. Membaca Bung Amir harus dengan menempatkan dalam zamannya, membiarkan dirinya tampil melalui pikiran dan tindakannya dalam sejarah, demikian nasihat Leclerc.
Nasihat Leclerc patut diikuti karena pembacaan kehidupan seseorang tentu saja tidak dapat dilepaskan dari konteks hidupnya. Masalahnya, dapatkah Anda memahami bung Amir tanpa mengerti masa revolusi yang dihidupi olehnya? Masa revolusi 1945-1950, adalah salah satu bagian terpenting dan menentukan dalam sejarah Indonesia. Masa yang penuh kerumitan namun sangat menarik hati untuk diteliti. Cobalah untuk mempelajarinya!

Kita lanjutkan lagi. Bung Amir terlahir dari keluarga Batak Islam tetapi kakeknya adalah seorang jaksa beragama Kristen. Ayahnya yang juga jaksa menganut agama Islam karena menikahi seorang gadis Batak muslim. Ia menjadi Kristen setelah melewati pergulatan iman yang panjang (sekitar 10 tahun). Menurut Frederiek D. Wellem, penulis biografinya, ada empat faktor yang berperan penting dalam membawanya pada Kristus. Pertama, temannya di Leiden, Ferdinand Tampubolon, yang banyak menceritakan tentang Injil; lalu dosennya Prof. J.M.J. Schepper dan temannya Dr. C.L. van Doorn; serta keterlibatannya dalam perkumpulan mahasiswa Kristen dan penelitiannya sendiri terhadap Alkitab.
Selain membaktikan diri untuk bangsa dan negara, Bung Amir juga memiliki peran besar bagi kekristenan Indonesia semasa revolusi. Sayangnya, hidupnya berakhir tragis. Ia ditembak mati oleh militer atas perintah Kol. Gatot Subroto tanpa pernah diadili. Versi kelompok kanan mengatakan bahwa ia terlibat Peristiwa Madiun 1948. Versi kelompok kiri menyatakan ia dikorbankan demi kepentingan negara. Peristiwa Madiun 1948 sendiri adalah peristiwa sejarah yang masih diliputi misteri. Versi Leclerc mengatakan bahwa Soekarno memutuskan mengubah kejadian-kejadian di Madiun menjadi perang saudara dengan menyatakannya sebagai proklamasi berdirinya Republik Soviet di sana. Padahal proklamasi seperti itu tidak seorang pun pernah mendengarnya, dan tidak seorang pun berminat membuktikan kebenarannya.
Terlepas dari versi yang ada, haruslah tetap diingat bahwa Bung Amir adalah satu dari empat tokoh nasional yang menduduki jabatan tertinggi pertama di Indonesia. Tiga tokoh lainnya, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir menjadi pahlawan nasional. Bung Amir? Tidak ada gelar pahlawan, tidak ada bintang jasa, tidak ada buku tentang dirinya diizinkan beredar semasa Orde Baru, demikian juga kuburannya tidak dibiarkan aman sampai Reformasi tiba. Bahkan sampai hari ini ia lebih banyak diabaikan dan dilupakan dari sejarah.
Bung Amir digambarkan sebagai orator yang brilian, pemimpin rakyat yang senang berbicara di tengah massa dan tahu bagaimana harus berbicara dengan mereka. Bahkan pemerintah Belanda dikatakan menaruh hormat padanya. Sebagai tokoh yang kontroversial dan radikal, selalu ada orang yang menyukai pesona pribadinya yang hangat dan berpengetahuan luas namun akan selalu ada juga orang yang membencinya. Lalu, layakkah ia dihapus dari sejarah?  Akhirnya bagaimana dengan Yesus Kristus yang kontroversial dan radikal? Mengapa sejarah hidup kita tidak radikal seperti Yesus dari Nazaret? Mengapa pula jejak kaki-Nya sering kali kita abaikan sehingga terhapus dari setiap aspek sejarah hidup kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar